Langsung ke konten utama

Postingan

Taman Kanak-Kanak ABA Slanggen

Taman Kanak-Kanak ABA Slanggen TK ABA Slanggen. Sebuah sekolah di desa yang sangat sederhana. Bangunan tua bertembok kayu menjadi pelindungku saat terik mentari menyengat tubuh mungilku pada waktu itu. Aku bersekolah di TK itu selama empat tahun. Bukan angka yang sedikit. Sungguh lama, waktu itu mamaku memasukkanku di TK ketika aku umur 2 tahun. Aku masih kecil. Bahkan untuk melihat halaman rumah lewat jendela saja tidak kelihatan. Maklum pendek J . TK A (nol kecil) selama 3 tahun. Sungguh banyak kenangan yang aku dapatkan. Waktu itu aku sangat suka bermain ayunan dan jungkat-jungkit. Permainan sederhana tapi banyak makna. Saat umur 4 tahun aku sudah iseng-iseng buat bisnis. Walaupun bisa dibilang konyol dan geje tapi aku bersama teman-temanku sangatlah bangga banget. TK B (nol besar) kami harus berpindah dari bangunan sederhana itu. Yeaahh itu memang bukan tanah milik TK. Itu milik salah seorang di desa itu. Kami pindah di SD Muhammadiyah Slanggen depan rumahku. Ini SD sangat se...

menuju novel abal-abal

Terik mentari menyengat tubuh ini. Aku masih termenung sepi larut dalam ilusi. Hidup ini serasa dalam ilusi. Tidak ada lagi yang kurasakan tentang semua hal lagi. Aku merasa hidupku hampa. Tak ada lagi yang peduli terhadapku. Tak ada lagi yang menemaniku lagi. Tak ada lagi tawa yang menghiasi hariku. Tak ada lagi cerita lucu yang mewarnai hidupku. Kini, semuanya sirna. Aku terbangun dari lamunanku. Tak terasa air menetes dari dalam kelopak mata kecillku ini. Air mata yang sangat terasa dingin seolah membekukan hatiku. Kulihat dengan berkaca-kaca halaman luar rumahku. Rumahku ini memang sepi. Tak ada lagi orang yang tinggal di rumahku kecuali pembantuku dan aku. Tiba-tiba terdengar suara dari   luar memanggilku. Seorang ibu tua menghampiriku di kamarku pagi ini.   Segera kuusap semua air mataku yang membekas duka. Kemarin baru saja pemakaman orang tua ku. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan dua minggu yang lalu. Tetapi aku masih tidak percaya dengan pernyataan ini. Kare...

Dimana Bumi Diinjak Disitulah Langit Dijunjung

Dimana Bumi Diinjak Disitulah Langit Dijunjung Artikel pertama yang aku buat di kelas X, kelas yang masih baru dan tentunya unyu-unyu ^^ini dibuat setelah masa mos cukup monoton dengan bawaan sial itu berakhir. Menjunjung Tinggi Produk Dalam Negeri Menuju Majunya Ekonomi Kreatif           Banyak orang bilang “Dimana bumi diinjak disitulah langit dijunjung”. Itulah sebuah pepatah yang biasa diartikan dimana kita berada atau tinggal kita harus menghargai, menghormati dan toleransi dengan apapun yang ada di tempat kita berada. Namun apakah kita telah menerapkan pepatah tadi sebagai   bangsa Indonesia? Mestinya sudah. Pepatah ini memang sangat mudah dikatakan dan diucapakan. Tetapi untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak semudah membalikkan tangan. Seperti halnya dalam bidang ekonomi khususnya terhadap produk dalam negeri. Di zaman yang terus maju dan berkembang ini keadaan ekonomi terus mengalami perubahan. Produk luar ...

Aku Vs Kalian (coming soon)

Aku Vs Kalian                 Hujan turun membasahi bumi. Percikan air terdengar di telingaku. Sang mentari nampak tak bergairah tuk muncul menerangi kehidupan pagi hari. Ku melangkah dengan tegar mengawali cakrawala kehidupan. Pagi itu sangat lamban, sangat terasa   mengantuk dan malas. Aku menutup diary yang baru saja aku baca.sudah berkali-kali aku membaca pada halaman diary itu bahkan sampai hafal isinya. Tetapi, aku tidak pernah bosan untuk membacanya. Karena pada halaman itu, ada sebuah cerita indah yang diberikan Tuhan untukku. Cerita itu selalu ada dalam setiap detak jantung hingga merasuk pada palung   jiwaku. Tiba-tiba lamunanku membuyar ketika ketiga sahabatku datang menemuiku dikelas yang masih sepi ini. Aku dan ketiga sahabatku   berteman sejak enam bulan yang lalu. Kami berkenalan ketika MOS (Masa Orientasi Sekolah)      selesai. Entah karena apa, kami selalu be...